In Personal

Hello!


Hi guys this is my first post in this blog. Actually this is my first time for making a new post after all this time not taking care of this blog. And first, I will talk about myself so that you guys who reading this now will know more about me.
My name is Halimah Tri Salasati, you can call me Halimah or Ima. I was born in Madiun which is in East Java, at 15th of October 1995. I’m 21 years old, currently studying Management at Universitas Gadjah Mada.
5 years ago, I made this blog just for fun. That time, my deskmate loved to read blogs (tau lah ya kebiasaan temen sebangku itu pasti nular lol). Awalnya cuma suka baca-baca aja. But over the time I want to make my own blog. Postingan yang aku bikin dulu tuh jauh banget dari kata bermutu karena jujur aja mostly isinya cuma curcol. But, after I scroll the old post, I found some lyric hahaha wow me. Segabut itu sampe lirik lagu pun ikut ke post.
So this time, I decided to build my blog again to share my passion, personal, thought, review, tips and trick about beauty or anything. I’m no expert but I’ll try to make quality and useful content. Inshaa Allah.
I hope this blog could help you to feel more comfortable in your life. Enjoy!

If you have any request and suggestions on what I should write or review about, feel free to leave a question below, or mail me on halimahts@hotmail.com.

xoxo

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In rebloged

Dari Mereka yang Sedang Menunggu

waiting

Jika ada penghargaan untuk kegiatan paling menyiksa di dunia ini, maka pemenangnya adalah menunggu. Ya, menunggu akan menjadi jawara berturut-turut selama berwindu-windu.
Ini adalah surat-surat dalam paragraf, dari mereka yang sedang menunggu.
Menunggu seseorang untuk sadar. Tidak peduli berapa kali pun aku muncul di hadapanmu, aku berakhir hanya menjadi bayangan. Setiap denyut detik yang aku habiskan hanya untuk menerka apakah sebenarnya kamu menyadariku atau tidak. Bahagiaku terlalu mudah, hanya dengan tak sengaja bertukar tatap. Namun sedihku terlampau lasuh, cukup karena tak bertemu denganmu di waktu dan tempat biasanya kauhadir. Aku tak sedang menunggumu untuk sadar, kau sudah sadar. Aku pun sadar, nahasnya kau dengan sadar tak menyadariku.
Menunggu jawaban. Ada alasan mengapa sesosok hantu bisa penasaran, ada sesuatu yang tertinggal. Tanda tanya yang besar dan berjumlah jutaan menggantung di pikiran. Semuanya menanti jawaban. Jawaban yang bahkan waktu tak bisa menjawabnya jika bukan dengan bantuanmu. Hanya kamu, yang bisa memberikan jawaban. Namun meski kamu bisa, sayangnya kamu tak mau.
Menunggu kamu mengerti. Kita selalu berujung pada mencari siapa yang salah. Lalu semua berakhir dengan aku yang mengalah. Rasa ini hanya aku yang mengerti. Yang kamu yakini, kamulah yang benar sendiri. Mengerti bukanlah pekerjaan yang mudah. Akan tetapi setidaknya, aku berusaha.
Menunggu yang tak pasti. Aku berjalan menujumu, kamu berlari menujunya. Aku menunggu kau sendiri kembali, yang entah harus berapa tahun cahaya. Namun ketika waktunya datang, secepat kilatan cahaya pula kau kembali sudah ada yang punya. Lalu aku menunggu lagi. Dan lagi. Satu pertanyaan yang paling aku kesalkan, “Mengapa kamu terus bertahan bersama dia yang membuatmu tidak bahagia? Mengapa tidak denganku?” Lalu aku tersadar dengan jawaban yang terhembus dari angin di malam ini, “… Karena kau cuma menunggu.”
Menunggu kembali. Semua yang pergi tak bisa dengan mudah begitu saja kembali. Terutama jika yang pergi adalah karena kesalahan sendiri. Tak ada objek yang bisa disalahkan selain diri. Memutar waktu pun mustahil karena hidup bukanlah film fiksi. Satu hal yang aku ketahui, sedetik setelah kamu pergi aku hidup dalam bayang-bayang depresi.
photography-quote-text-wait-Favim.com-433143
Menunggu cinta sejati. Sebagian orang, terlalu tak sabaran untuk bertemu orang yang tepat. Padahal, sesuatu yang indah tidak pernah datang dengan mudah. Cinta sejati butuh patah hati. Orang itu tak akan dikatakan orang yang tepat jika tak muncul di waktu yang tepat. Mungkin, bukan sekarang. Setiap kali aku ingin berteriak dan bertanya “Tapi kapan?”, aku harus menahannya, lalu menghela napas panjang, tersenyum, dan fokuskan memperbaiki kualitas diri. Orang yang tepat hanya akan datang ke kehidupan orang yang tepat pula baginya. Tepatkah kamu bagi dia yang tepat?
rebloged from : here

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Personal

Different

She's the girl that always cry..
.. almost every night.

Padahal..
Dulu ia tak seperti itu
Tapi, sekarang.. Entahlah
Sejak Tuhan mengambil sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya, dia menjadi ber-be-da.

She's the one who spent her days smiling...
... and her nights crying
She's the girl that believes that what comes around goes around.
The one that hopes for a better day.
She's the girl that would love to be loved.
The one that looks so damn strong...
... but feels so weak
She's the girl that picks herself up every time she falls..

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In artikel

10 Kalimat Ciri PHP

Orang yang paling kebal sama PHP adalah mbak-mbak yang megang makanan sample. Dia selalu didatangin, disenyumin, tapi cuma buat diambil makanan gratisannya, kemudian ditinggal pergi. Sakitnya tuh di sini. *nunjuk dengkul*

Tapi kita semua bukan mbak-mbak makanan sample. Kita nggak se-strong dia. Kita hanya manusia biasa yang berdiri setengah jam aja udah ngurut-ngurut mata kaki. Tapi beda sama kaki, kalau sudah pegel hati nggak bisa diurut. Manusia, selain haus kasih sayang, ternyata haus kepastian juga. Nggak cukup sampai di tahap diperhatiin, diingetin makan, diingetin tugas, di-marah-unyu-in kalau larut malam belum tidur, diambekin kalo tidurnya nggak madep kiblat. Setelah fase-fase itu, ternyata kebanyakan dari kita butuh dipastikan, semuanya dibalut dalam pertanyaan,
“Jadi sebenernya kita ini apa?”

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In lyric

Best Mistake by Ariana Grande




How soon do we forget how we felt?
Dealing with emotions that never left
Playing with the hand that we were dealt in this game...

Maybe I'm the sinner, and you're the saint
Gotta stop pretending what we ain't
Why we pointing fingers, anyway?
When we're the same

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments