BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Membuat
resensi sebuah novel merupakan salah satu cara untuk mengetahui apakah novel
tersebut barmanfaat untuk dibaca atau tidak. Hal-hal yang perlu diresensi
diantaranya yaitu tema novel, cover novel, jenis novel, unsur-unsur intrinsik
dan ekstrinsik, nilai novel, keunggulan dan kelemahan novel, manfaat yang
diperoleh dari novel yang diresensi dan perlu tidaknya novel tersebut dibaca.
Selain
hal-hal diatas, seorang resentator juga harus memahami isi novel yang akan diresensi,
karena jika seorang resentator tidak memahami isi novel tersebut, maka apa yang
akan diresensi tidak akan sempurna dan tidak akan sesuai harapan.
Dengan
mengetahui lebih dalam tentang isi, kelebihan dan kekurangan novel, kita akan
semakin sadar betapa bermanfaatnya novel ini.
Sebelum membuat
resensi, resentator harus memilih jenis novel yang akan diresensi. Pada
kesempatan kali ini saya membuat resensi novel berjudul “ORANG MISKIN DILARANG
SEKOLAH”.
B.
Rumusan
Masalah
Sesuai dengan latar belakang
masalah dan berbagai hal yang timbul, maka masalah yang saya rumuskan sebagai
berikut:
1. Apakah
jenis novel yang diresensi tersebut?
2. Apakah
nilai yang terkandung dan manfaat dari novel tersebut?
3. Apakah
keunggulan dan kelemahan novel tersebut?
4. Apa
saja unsur intrinsik dan ekstrinsik yang terkandung dalam novel tersebut?
5. Apakah
novel tersebut layak untuk dibaca dan dimiliki oleh masyarakat?
C.
Tujuan
Penulis membuat resensi
novel “ORANG MISKIN DILARANG SEKOLAH” ini dengan tujuan sebagai berikut:
1. Untuk
mengetahui jenis novel tersebut.
2. Untuk
mengetahui nilai yang terkandung dan manfaat novel.
3. Untuk
mengetahui keunggulan dan kelemahan novel tersebut.
4. Untuk
mengetahui unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik yang terkandung dalam novel.
5. Untuk
mengetahui apakah novel tersebut layak untuk dibaca dan dimiliki oleh
masyarakat.
***
BAB II
ISI
Judul :
ORANG MISKIN DILARANG SEKOLAH
Pengarang :
Wiwid Prasetyo
Penerbit :
DIVA Press
Tahun Terbit :
2011
Tebal Buku :
450 halaman
Ukuran : 20 x 14 cm
ISBN :
979-963-793-7
Cover Depan :
bergambar anak kecil mengintip di gerbang sekolah
A.
Tema
Novel
yang berjudul “ORANG MISKIN DILARANG SEKOLAH” karya Wiwid Prasetyo ini
bertemakan tentang sebuah persahabatan manusia, pendidikan, moral dan
kemanusiaan.
B.
Sinopsis
Musim
layang-layang telah tiba. Di kampung kami, jika musim layang-layang tiba,
langit tiba-tiba penuh dengan hiasan warna-warni. Layang-layang yang terbuat
dari kertas minyak dan ditarik dengan benang gelasan itu melayang-layang
terbawa angin, di atas genting. Jika angin bertiup tak menentu layang-layang
kami akan tersangkut kabel listrik. Bisa dipastikan orang dewasa akan marah
jika layang-layang yang tersangkut kabel memutuskan aliran listrik. Koh A
Kiong, seorang setengah tua yang bermata sipit dan berkumis tipis ini adalah
orang dewasa yang selalu memarahi kami saat kami akan mengambil layang-layang
yang tersangkut. Namun, ketika Koh A Kiong mengetahuinya, kita selalu lari
terbirit-birit menghindari serangan dari Koh tua itu. Dan kita selalu berhasil
melarikan diri darinya. Saat itu aku dan ketiga temanku bertekad akan membalas
dendam pada Mat Karmin, warga di kampung kami yang licik dan sombong. Ia adalah
pebisnis mainan anak-anak. Orang yang selalu menghalalkan segala cara demi
mendapatkan kesenangan dirinya. Ialah orang yang menguasai dunia anak kecil. Ia
yang menentukan musin permainan di kampung kami.
Namaku
Faisal, siswa kelas 3 di SD Kartini. Aku mempunyai tiga sahabat yang kusebut
anak alam. Ketiga sahabatku itu memiliki umur yang sama denganku, namun mereka
belum merasakan bangku sekolah sama sekali.
Pada
suatu hari, saat kami bermain layang-layang kami terpikirkan untuk mempunyai
layang-layang yang besar dan bagus agar bisa mengalahkan Mat Karmin. Tetapi,
anak alam tidak mempunyai uang untuk membeli layang-layang baru. Setelah berpikir panjang, aku mempunyai ide untuk
membuat layang-layang sendiri. Anak alam sempat pesimis karena mereka memang
suka pasrah dan tidak mau mencoba. Setelah aku bujuk akhirnya mereka mau juga
mengikuti saranku. Esok hari setelah pulang sekolah aku mampir ke tempat
pengepul barang bekas untuk membeli kertas minyak. Tanpa sengaja ketika aku
memilih-milih kertas yang masih terlihat bagus, aku menemukan buku Keterampilan
untuk Anak SD. Dalam hatiku aku ingin memilikinya. Tetapi aku tidak membawa
banyak uang. Terbesit dalam benakku untuk mencurinya. Kuselipkan buku itu
didalam kaos oblongku. Perutku kukempiskan saat aku membayar pada abang pekerja
itu agar mereka tak curiga. Dan berhasil, aku telah membawa buku itu pulang.
Kemudian aku langsung menemui anak alam. Setalah semua bahan terkumpul, kami
mulai membuat layang-layang. Namun, mereka mengejekku karena membacaku masih
terbata-bata. Aku kesal karena mereka mengejekku. Aku mengancamnya agar mereka
tetap bersemangat untuk menyelesaikan layang-layang. Dan ketika itu Pambudi
mengusulkan untuk datang ke pakar layang-layang, yakni pembuat buku itu. Yak,
Ki Hajar Ladunni. Kami mencatat alamatnya dan memutuskan untuk pergi kesana
esok hari.
Esoknya,
aku berangkat pagi sekali dengan bekal roti dan minuman. Kami naik bis menuju
ke Gogik, Ungaran. Kami harus menyusuri hutan agar sampai di rumah Ki Hajar
Ladunni. Kira-kira setengah jalan menuju rumah Ki Hajar Ladunni kita dihadang
oleh anak gembel yang sangat menjijikkan dan aneh. Anak gembel itu
menakut-nakuti kami. Aku teringat roti bekalku. Aku memberikan rotiku pada anak
gembel itu agar mereka tidak menggangguku. Tetapi, anak gembel itu malah
menyuruh kami untuk mengikutinya. Anak gembel itu membawa kami ke sebuah rumah.
Diatas pintu rumah itu tertulis nama Ki Hajar Ladunni. Lalu aku bertanya kepada
anak gembel itu apakah ini rumah Ki Hajar Ladunni dan dia menjawab tidak. Lalu
mengajak kita untuk mengikutinya lagi. Karena aku tahu kalau sebenarnya kami
sudah sampai di rumah Ki Hajar Ladunni, aku tidak mau mengikuti anak gembel itu
lagi. Biarkan anak alam mengikutinya, anak alam tertipu karena mereka tidak
sekolah jadi mereka tidak bisa membaca. Aku beralasan kalau aku capek dan
memilih untuk istirahat disini saja. Kemudian mereka pergi meninggalkanku. Aku
menyandarkan tubuhku diatas kursi di depan rumah. Tak lama kemudian aku melihat
seorang berambut gondrong, berjenggot, berkumis tebal, matanya mencorong tajam
seperti elang, tubuhnya bungkuk dan memakai pakaian serba hitam, gelang dari akar
bahar melintang di pergelangan tangannya. Beliau menatapku tajam. Aku
menyapanya dan bertanya apakah beliau Ki Hajar Ladunni. Dan benar dugaanku,
beliau adalah Ki Hajar Ladunni. Aku bertanya bagaimana bisa membuat
layang-layang yang begitu hebat. Kemudian beliau mengajariku. Ternyata membuat
layang-layang itu harus simetris agar saat terbang dia tidak jatuh. Satu
pelajaran untukku, ternyata orang pintar itu tak selalu identik dengan
penampilan, pintar itu pusatnya di otak, jadi tak ada urusan dengan penampilan.
Ternyata anak gembel itu adalah anak KI Hajar Ladunni, namanya Candil.
Mengejutkan sekali ketika aku tahu bahwa anak gembel itu sudah kelas 4 SD.
Padahal badannya masih kecil, seharusnya dia kelas satu. Setelah mendengar
cerita dari Ki Hajar Ladunni, anak gembel itu ternyata anak yang sangat jenius.
Dia selalu bertanya hal-hal yang membingungkan gurunya. Maka dari itu, dia
sudah kelas 4 SD. Layang-layang kami sudah jadi. Kami mencobanya, dan memang
benar sangat bagus. Kami bermain-main hingga sore kemudian kami pamit plang.
Kami sangat berterima kasih pada Ki Hajar Ladunni karena telah mengajari kami.
Banyak pengalaman berharga yang aku dapat hari ini. Kami pulang dengan hati
yang sangat senang. Sampai di kampung kami langsung menuju rumah Mat Karmin.
Kami ingin menantangnya utuk beradu layang-layang. Betapa kecewanya kami ketika
tahu bahwa musim layang-layang sudah habis. Kami pulang dengan penuh rasa kecewa.
Esok
harinya aku menemui anak alam. Aku mengajak mereka untuk bersekolah. Aku tahu
ini sangat berat bagi mereka. Mereka berpikir bahwa sekolah itu hanya
menghabiskan uang saja. Untuk makan saja susah apalagi untuk sekolah. Mau bayar
pakai apa. Lebih baik bekerja membantu orang tua. Usahaku hari ini gagal.
Esoknya aku bermain lagi dengan anak alam. Aku tak patah semangat untuk
mengajak mereka bersekolah. Hari ini aku berpura-pura mimpi alien. Bahwa alien
akan datang ke bumi untuk mengambil anak-anak bodoh, anak-anak yang tidak
bersekolah. Dan mereka percaya dengan cerita palsuku itu. Hari itu juga mereka
ijin ke orang tua mereka masing-masing. Memang berat bagi orang tua mereka. Namun,
pada akhirnya orang tua mereka setuju dan mereka mau.
Musim
pendaftaran pun tiba. Aku naik ke kelas 4 dan anak alam masuk ke kelas 1.
Sangat miris melihat penampilan mereka. Seragam lusuh dari loakan, tas karung
dan sandal jepit. Mereka memang tidak punya uang untuk membeli alat sekolah
yang baru. Namun meskipun begitu mereka tetap semangat bersekolah. Hari pertama
masuk sekolah aku mengantarkannya ke ruang Kepala Sekolah. Kepala Sekolahku
menerima penjelasanku atas penampilan mereka yang seperti ini. Aku dan Kepala
Sekolah mengantar anak alam ke kelas barunya dan kemudian aku kembali ke kelas
baruku. Di kelas baru itu, anak alam disuruh berkenalan di depan kelas oleh Bu
Mutia, guru kelas kelas I-2. Betapa terkejutnya mereka malah diejek oleh
Guntur, Rena dan teman-teman yang lain. Mereka ini memang sombong sekali.
Meskipun sebenarnya mereka sangat sakit hati. Namun hal itu tidak akan
mematahkan semangat mereka untuk tetap bersekolah. Di kelas ini, anak alam
menemui sosok yang dikaguminya. Dia adalah Kania, gadis kecil yang membelanya
saat mereka diejek oleh teman-teman kelasnya yang sombong. Gadis kecil, cantik dan pemberani itu di taksir oleh
Pambudi. Mereka mengira Kania
merupakan anak orang berada, karena cantik, bersih dan pandai. Namun setelah di
selidiki oleh Pambudi, kehidupannya sama dengan keluarganya dan juga
teman-temannya. hanya karena
cita-cita, semangat dan keyakinan bisa membuat dia berjalan dan terus melangah
dari kerasnya kehidupan saat ini. Dan
itu membuat Pambudi semakin jatuh hati kepada Kania. Karena selain sebagai wanita yang
hebat, Kania juga sosok yang dikaguminya. Karena dengan berilmu, kita bisa
menakklukkan rintangan kehidupan dengan ilmu.
Di
kampungnya Faisal sangat kagum dengan Ustadz Muhsin, mahasiswa lulusan
pesantren yang memiliki suara merdu saat mengumandangkan adzan. Ia berasal dari
Kudus, pintar, baik dan sabar. Ia yang membuat Faisal termotivasi untuk bisa
membaca Al-Qur’an. Betapa kecewanya dia saat tahu bahwa Ustadz Muhsin sudah
pulang ke kampung halamannya. Padahal, Faisal datang ke tempatnya untuk belajar
Al-Qur’an. Akhirnya ia meminta bantuan Kiai Khadis untuk mengajarinya.
Esoknya anak alam berangkat ke sekolah dengan sangat rapi.
Mereka tampil rapi untuk Kania. Dan begitu seterusnya, mereka sangat kagum
dengan Kania. Setelah sebulan sekolah, Pambudi memutuskan untuk menyatakan
perasaannya terhadap Kania. Karena anak yang cerdas di sekolah, jadi dia
mengikuti bimbingan khusus setalah pulang sekolah. Anak alam menunggu sampai
siang dan akhirnya Kania keluar juga. Mereka mengikuti Kania tapi tak
sedikitpun Kania peduli dengan kehadiran mereka. Dan ketika Pambudi menyatakan
perasaannya Kania menolaknya mentah-mentah. Kania menolaknya karena dia tidak
suka dengan orang yang bodoh. Setelah ditolkh Kania seperti itu, tidak
memadamkan semangat Pambudi. Justru membuat Pambudi semakin bersemangat untuk
bersekolah.
Siang itu, Pak RT mendatangi rumah Yok Bek. Beliau meminta agar
Yok Bek segera memindahkan Gedong Sapinya karena banunya sangat merugikan warga
Kampung Genteng. Namun, Yok Bek meminta waktu untuk mengurusi semuanya. Yok Bek
sangat pasrah. Dan disaat yang kacau seperti ini, Yok Bek curiga kalau anak
alam sekarang sudah bersekolah. Semakin takutlah Yok Bek. Yok Bek menyuruh
kedua pembantunya, Denok dan Warti untuk menanyakan apakah dia
benar bersekolah. Dan dugaannya benar. Mengetahui
itu, Yok Bek memanggil ketiga orang tua anak alam yang tak lain adlaah
pegawainya yang bekerja di Gedong Sapi. Yok Bek menyuruhnya agar anak alam
berhenti sekolah. Yok Bek menjanjikan bahwa esok hari ia akan menyekolahkan
anak alam. Betapa senangnya orang tua anak alam, mereka tidak tahu bahwa mereka
dibodohi oleh Yok Bek.
Jum’at itu, ibu kost marah-marah pada Pak RT, ia menuduh bahwa
Pak RT tidak tegas dalam menghadapi masalah Yok Bek. Siang itu setelah sholat
Jum’at Pak RT dikagetkan dengan warga kampung yang sudah berkumpul di depan
rumahnya. Pak Cokro adalah profokator dalam masalah ini. Banyak diantara mereka
yang membawa poster-poster bertuliskan mengusir Yok Bek. Pak RT menenangkan
warganya agar tidak main hakim sendiri. Warga setuju dan kemudian
berbondong-bondong menuju rumah Yok Bek. Sampai disana, Yok Bek diamuk massa
karena Yok Bek tidak mau keluar. Ditengah-tengah emosi seperti itu, Faisal
muncul ditengah massa. Faisal mencoba menenangkan warga agar tidak main hakim
sendiri. Namun usahanya gagal. Yang ada dia malah pingsan kena amuk warga.
Setelah sadar, Faisal dianggap gila karena kelakuannya yang
semakin aneh. Ayahnya mendatangkan seorang psikiater. Awalnya Faisal tidak
ingin bertemu dengan psikiater itu. Namun karena ayahnya yang memaksa, mau tak
mau ia menurutinya. Hari itu, ia menceritakan keadaan yang sebenarnya.
Psikiater itu tidak memberi komentar apapun. Dan dia akan datang esok hari
untuk mendengarkan keluhan Faisal lagi. Hari ini, Faisal mulai merasa nyaman
dengan adanya psikiater itu. Ia merasa bebannya menjadi sedikit berkurang setelah
menceritakan keluhannya. Psikiater itu ternyata malah mendukung Faisal. Ia
sangat bangga terhadap Faisal. Namun ketika Pak Cokro mengetahui hal ini. Ia
membujuk Pak Romli, ayah Faisal agar tidak mendatangkan psikiater itu lagi.
Selain biayanya yang mahal, ia tidak berpengaruh dalam kesehatan Faisal. Lebih
baik diobati Pak Cokro saja. Ayah Faisal menurut saja apa kata Pak Cokro karena
beliau memang masih berpikiran kolot. Mengetahui hal itu, Faisal semakin marah
dan tidak ingin bertemu dengan dukun palsu itu. Dia berusaha agar bisa kabur
dari rumah daripada harus bertemu Pak Cokro. Namun, tindakannya malah dianggap
aneh. Akhirnya dia menurut saja apa kata ayahnya. Dia memikirkan segala cara
agar dukun palsu itu tidak mengobatinya. Setelah berpikir lama, dia menemukan
caranya. Malam hari itu ketika Pak Cokro datang ke rumahnya ia berpura-pura
kerasukan jin Belanda. Ia menakut-nakuti Pak Cokro hingga akhirnya Pak Cokro
tunduk pada jin itu. Dia berjanji tidak akan menipu warga lagi. Dia juga
berjanji bahwa dia akan belajar membaca dan menulis agar tidak menjadi bodoh.
Ia menjalin kerjasama dengan Faisal. Ia meminta Fisal agar mengajarinya membaca
dan menulis. Faisal menyetujuinya. Dalam hatinya, Faisal tertawa. Orang bodoh
itu memang makanannya orang pintar.
Esok hari ada pengumuman dari kelurahan bahwa akan ada sekolah
untuk warga kampung. Semua orang boleh sekolah disana karena tidak ada batasan
umur. Mendengar hal itu, Faisal berkeinginan untuk mengajar di sekolah
kelurahan itu. Kemudian ia melamar menjadi guru. Setelah mengikuti tes dari
pihak kelurahan, akhirnya dia diterima. Senang sekali dirinya.
Seminggu semenjak kejadian pengusiran Yok Bek, dia tidak pernah
bertemu dengan anak alam lagi. Bahkan Faisal tidak tahu dimana rumahnya
sekarang. Dia mencari-cari dimana keberadaaannya. Ternyata anak alam sekarang
tinggal di kolong jembatan. Faisal iba melihatnya rumah yang ditinggalinya
sekarang, rumah yang ditinggalinya sekarang lebih parah dari rumahnya dulu yang
di Gedong Sapi. Tujuan Faisal mencari anak alam adalah untuk memotivasinya agar
sekolah lagi. Setelah berusaha keras untuk membujuk, akhirnya mereka mau.
Faisal pulang dengan hati yang senang karena berhasil mengajak anak alam
sekolah lagi.
Besok adalah hari pertama Faisal masuk sekolah setalah seminggu sakit.
Di hari itu, dia dititipi surat Pambudi. Tentunya surat itu untuk Kania. Gadis
yang dikaguminya. Di sekolah Faisal memberikan surat itu kepada Kania. Dia juga
menceritakan kenapa anak alam tidak sekolah selama beberapa hari ini.
Mengetahui hal itu, teman-teman kelas anak alam ingin mengunjunginya. Faisal
memberitahu rumahnya sepulang sekolah. Siang itu adalah hari pertama Faisal mengajar. Dia
sangat senang sekali bisa mengajar warga kampungnya. Esok hari setelah pulang
sekolah dia kembali mengunjungi rumah Pambudi. Ternyata di rumah Pambudi ada
teman-teman sekelasnya yang sedang berkunjung. Karena dia merasa tidak enak,
dia memilih untuk pulang saja. Disela-sela itu, Pambudi dan Kania bertemu
kemudian bermain di rel. Di rel kereta itu Pambudi menyatakan cintanya. Kania juga
suka padanya. Namun, Kania tidak ingin pacaran. Kania tidak ingin Pambudi
menjadi orang yang bodoh.
Pak Cokro, yang dulunya sebagai dukun, kini mengubah tempat
prakteknya menjadi Taman Baca untuk penduduk Kampung Genteng. Dia sekarang
bertobat. Bahkan, warga yang datang berobat padanya malah dianjurkan agar bisa
membaca.
Mat Karmin, warga kampung Genteng yang sombong,
licik dan curang itu sekarang sudah bisa membaca. Bahkan dia menulis sebuah
buku yang berisi tentang mainan anak-anak. Dibalik semua itu, ternyata Mat
Karmin adalah seorang pedophilia. Dia
menyodomi anak kecil yang datang ke rumahnya. Hal ini diketahui warga setelah
banyak ada anak yang hilang setelah ijin berkujung ke rumah Mat Karmin. Mat
Karmin dilaporkan ke pihak polisi dan dia dipenjara.
Anak
alam kembali bersekolah. Di hari pertama masuk itu kedua temannya membuat ulah.
Pepeng yang tak mandi gara-gara dia lupa kalau harus sekolah sehingga dia tidak
mempersiapkan dirinya. Kaos kaki Yudi yang baunya busuk. Konon, kaos kaki itu
adalah peninggalan kakeknya dari jaman dulu. Dia tidak mungkin mencucinya
karena umurnya yang sudah tua. Dia takut setelah dicuci kaos kaki itu malah
rusak. Akibat perbuatan kedua temannya itu, Anton mual-mual. Kelas menjadi
kacau. Dalam keadaan ini, Karisma malah memanfaatkannya. Dia iri melihat Anton
tidak ikut pelajaran gara-gara menyium bau tidak enak itu. Dia yang malas
bersekolah mengusapkan daun kentut ke seluruh badannya agar dia juga tidak ikut
pelajaran. Kemudian mereka bertiga disuruh mandi di kolam oleh Pak Yadi, guru
olahraga SD Kartini yang sangat disiplin dengan penampilan terutama kebersihan.
Karisma sangat senang. Justru Yudi dan Pepeng sangat sedih. Dalam keadaannya
yang seperti ini, malah dimanfaatkan oleh Karisma. Anak yang segala
kebutuhannya terpenuhi malah menyia-nyiakan. Di kelas, Karisma tidak
memperhatikan Bu Mutia. Dia malah membayangkan game. Bu Mutia mengetahuinya
lalu Karisma dikeluarkan dari kelas.
Sepulang
sekolah, Pambudi pergi ke rumah Kania untuk meminjam buku. Mengetahui rumah
Kania dia sangat kaget. Ternyata Kania adalah anak buruh cuci. Setiap pagi dia
membantu ibunya mengambil cucian. Mengetahui keadaan Kania yang seperti itu
saja dia bisa menjadi anak yang pintar. Seharusnya dia juga bisa seperti Kania.
Dia semakin bersemangat bersekolah.
Pambudi
bekerja di Bang Ujai sebagai penjual koran. Sepulang sekolah dia bekerja untuk
membiayai sekolahnya. Sedangkan Yudi menjual pisang goreng di sekolahnya. Dan
Pepeng membantu ayahnya menjadi kuli angkut kelapa setiap dini hari hingga
waktu sekolah tiba. Mereka membagi waktu antara belajar dan bekerja. Menjelang
semesteran datang, mereka belajar lebih giat. Pambudi ingin meminjam buku pada
Kania. Tetapi berhubung terlalu sering, Pambudi jadi tidak enak. Dia memutuskan
untuk meminjam ke Rena. Namun, ketika sampai di rumah Rena, Pambudi malah
dibentak-bentak dan diusir oleh Rena. Kemudian dia memberanikan diri untuk
meminjam ke rumah Bu Mutia. Setelah basa-basi dengan Bu Mutia, akhirnya Pambudi
dipinjami oleh Bu Mutia. Pambudi sangat berterima kasih kemudian dia pamit
pulang. Sampai di rumah dia belajar dengan giat.
Ujian
semester mulai minggu depan. Untuk sementara waktu anak alam berhenti bekerja.
Memang sedikit kecewa karena tidak mempunyai penghasilan lebih. Tetapi mereka
harus melakukannya agar mereka naik kelas.
Ujian
Semester kali ini mereka lebih bersemangat dan percaya diri karena mereka telah
mempersiapkannya dengan baik. Karisma, pemalas di kelas I-2 ini malah
kebingungan mengerjakan ujian. Ia tahu kalau hari ini ujian. Tetapi ia malah
bermain game sampai sore dan ketika pulang ia langsung tidur. Karisma menjawab
soal tersebut asal-asalan. Ia menjawabnya dengan menghitung kancing seragamnya.
Dan Rena, gadis pandai setelah Kania itu ketahuan menyontek. Dia menulis jawaban
diselembar tissue sebelum akhirnya Bu Mutia memergokinya. Rena menangis. Namun apa
jadinya memang dia yang bersalah.
Hari
pengumuman tiba, seluruh siswa SD Kartini datang ke sekolah bersama orang tua
masing-masing. Kabar paling buruk adalah Rena dan Karisma tidak naik kelas.
Ayah Karisma memarahi Bu Mutia karena tidak menaikkan Karisma. Ia berpikir
bahwa anak yang sekolah itu pasti naik kelas. Namun akhirnya Karisma yang
menerima keadaan itu menjelaskan kepada ayahnya dan ayahnya bisa terima.
Sedangkan ibu Rena, dia malah menyogok Bu Mutia dengan uang agar mau menaikkan
Rena. Ibu Rena melakukannya karena ia malu jika anaknya tidak naik kelas.
Tetapi Bu Mutia menolaknya mentah-mentah.
Pak
Romli, ayah Faisal pingsan ketika keluar dari kelas. Ayah Faisal pingsan ketika
mengetahui bahwa nilai Faisal ini mendekati sempurna. Nilai rata-ratanya 9 dan
10. Anak alam juga sangat kagum kepada Faisal. Dia benar-benar jenius. Kabar
yang lebih menyenangkan lagi adalah anak alam lulus. Mereka sangat bangga
sekali. Ternyata mereka bisa membuktikan bahwa orang miskin itu belum tentu
bodoh. Mereka yang mau bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasil yang
memuaskan. Dan sesuai janjinya ayahnya, karena dia mendapat juara 2, maka ia
disunatkan oleh ayahnya. Dia semakin bangga karena tidak akan ada lagi yang
menyepelekannya karena dia belum sunat. Dengan nilai yang seperti itu, Faisal
menjadi juara 2 di sekolahnya. Dan dia akan mewakili sekolahnya untuk olimpiade
eksak nanti. Faisal sangat terkejut ketika dia tahu bahwa yang menjadi juara 1
adalah Kania. Anak kelas 1 SD. Dengan seperti itu, ia lebih bersemangat lagi.
Anak yang masih kelas 1 saja bisa menjadi juara 1. Ia yang sudah naik kelas 5
harus bisa lebih. Ia menjadikannya motivasi untuk lebih baik lagi.
Dan itulah akhirnya menjadikan murid-murid yang sukses dan bisa mengalahkan
murid yang lain. Itulah perjuangan yang amat menyiksa dan berbuah emas dan
segala medali yang paling tertinggi ia dapatkan. Persahabatan dan saling
dukungan menjadikan segala semua itu menjadi lebih baik dan menjadi yang
terbaik.
C.
Cover
Buku
yang berjudul “ORANG MISKIN DILARANG SEKOLAH” ini ditulis oleh Wiwid Prasetyo
yang diterbitkan oleh DIVA Press dengan panjang buku 20 cm, lebar buku 14 cm, kertas
isi HVS dan tebal 450 halaman. Buku ini merupakan cetakan kesembilan yaitu pada
tahun 2011 dengan cover bergambar anak kecil yang sedang mengintip di depan
gerbang sekolah. ISBN 979-963-793-7. Halaman judul terlampir.
D.
Jenis
Buku
Novel
“ORANG MISKIN DILARANG SEKOLAH” merupakan jenis novel fiksi yang menceritakan
tentang sebuah persahabatan manusia yang memperjuangkan cita-cita mereka
melalui mimpi-mimpi tak terjamah dan semangat yang selalu menggebu.
E.
Unsur
Intrinsik
1.
Tema
Novel
karya Wiwid Prasetyo ini bertemakan tentang sebuah persahabatan manusia yang
mempunyai mimpi-mimpi besar. Persahabatan antara anak kota yang berpendidikan
dengan tiga anak alam yang kemudian berjuang untuk mengubah hidup mereka.
Semangat juang yang sangat menggebu walaupun berbagai rintangan yang harus mereka
hadapi. Banyak pesan moral dan kemanusiaan akan kita dapatkan setelah membaca
novel ini.
2.
Latar/Setting
Kampung
Genteng, Pasar Johar, Semarang, Pengepul barang-barang bekas, Gedong Sapi, Hutan,
Gogik, Ungaran, Rumah Ki Hajar Ladunni, SD Kartini, Rumah Mat Karmin, Balai Kelurahan,
Rumah Kania, dan Kolong jembatan.
3.
Tokoh
dan Penokohan
· Koh
A Kiong (Pemeran Pendukung - Antagonis)
warga kampung Genteng yang sangat
galak, yang selalu memarahi anak-anak kecil yang bermain layang-layang.
· Faisal
(Pemeran Utama - Protagonis)
tokoh utama dalam novel ini.
Faisal memiliki sifat yang selalu bersemangat, tidak pantang menyerah
· Pambudi
(Pemeran Pendukung - Protagonis)
dalam persahabatan ini
secara tidak langsung ia seperti menjadi pemimpin, karena secara tidak sadar
teman-temannya merasa segan dengannya, mungkin karena ia sering kali banyak
berkorban, selalu memutuskan sesuatu dan memecahkan persoalan-persoalan yang
pelik. Pambudi bersifat suka menyalahkan, bijaksana, semangat, berjiwa leader, jahil.
· Pepeng
(Pemeran Pendukung - Protagonis)
nama panjangnya Marpepeng,
ia juga teman Faisal, salah satu dari tiga anak alam yang tinggal di Gedong Sapi.
Pepeng alias ikal ini bersifat suka meledek, pendendam, jahil, gampang
menyerah. Anak alam ini menjadi semangat setelah mengerti betapa pentingnya
sekolah bagi kehidupan.
· Yudi
(Pemeran Pendukung - Protagonis)
nama panjangnya Wahyudi, ia
adalah teman Pambudi dan Pepeng yang juga tinggal di Gedong Sapi. Si albino
yang mempunyai tahi lalat di hidung ini memiliki sifat penengah, bijaksana,
semangat, jahil
· Mat
Karmin (Pemeran Pendukung - Antagonis)
warga kampung Genteng yang sombong,
licik dan curang. Ia adalah pebisnis anak-anak yang ulung, hidup sebatang kara
dan hanya berteman dalam kesunyian. Anak kecil yang terperangkap dalam tubuh
orang dewasa yang pada akhirnya terkuak bahwa dia seorang pedophilia.
· Abang
Pemulung (Pemeran Pendukung - Protagonis)
cuek, tidak peduli
· Yok
Bek (Pemeran Pendukung - Antagonis)
pemilik Gedong Sapi yang
bersifat ulet, galak, kasar, sombong, licik, curang tapi juga terkadang baik.
· Sinyo
Dandy (Pemeran Pendukung - Antagonis)
merupakan anak dari Yok Bek
yang menjadi Direktur Pabrik Kayu di kawasan industri Semarang Barat. Sifatnya
tidak jauh beda dengan Yok Bek, sombong
· Istri
Sinyo Dandy (Pemeran Pendukung - Antagonis)
sombong
· Pak
Samijan (Pemeran Pendukung - Protagonis)
ayah Pambudi yang bekerja di
Gedong Sapi milik Yok Bek. Pekerja yang ulet, cuek, penurut, pasrah, egois, dan
diktator.
· Pak
Romli (Pemeran Pendukung - Protagonis)
ayah Faisal, keras dalam
mendidik, tegas, disiplin dan perhatian, masih kolot dengan tradisi jaman dulu.
· Ki
Hajar Ladunni (Pemeran Pendukung - Protagonis)
penulis dari buku Keterampilan
Sederhana untuk Anak Usia SD yang tinggal di Gogik, Ungaran. Berambut gondrong,
berjenggot, berkumis tebal, matanya mencorong tajam seperti elang, tubuhnya
bungkuk dan memakai pakaian serba hitam, gelang dari akar bahar melinttang di
pergelangan tangannya. Beliau inilah yang mengajari bagaimana cara membuat
layangan yang baik. Bersifat selalu bersemangat, tidak pantang menyerah dan
tawakkal
· Candil
(Pemeran Pendukung - Protagonis)
anak gembel yang ditemui
empat sekawan di hutan dalam perjalanannya mencari Ki Hajar Ladunni. Anak
gembel ini adalah anak KI Hajar Ladunni, dia serabutan, liar, jahil tapi sangat
jenius.
· Giatno
(Pemeran Pendukung - Protagonis)
ayah Yudi, penurut dan
pasrah terhadap nasib.
· Sukisno
(Pemeran Pendukung - Protagonis)
ayah Pepeng, penurut dan
pasrah terhadap nasib.
· Ibu
Yudi (Pemeran Pendukung - Protagonis)
penurut dan pasrah.
· Bu
Mutia (Pemeran Pendukung - Protagonis)
guru Bahasa Indonesia di SD
Kartini. Seorang pendidik sejati, beliau tak hanya mengajarkan pelajaran namun
sorot matanya yang teduh itu bisa membuat muridnya percaya diri. Beliau orang
yang pintar, baik, tegas, sabar dan penyayang.
· Pak
Zainal (Pemeran Pendukung - Protagonis)
kepala SD Kartini. Beliau
ini orang yang baik, pengertian, tegas dan disiplin.
· Guruh
(Pemeran Pendukung - Antagonis)
ketua kelas I-2. Teman
anak-anak alam. Berasal dari golongan highclass.
Dia teman Rena dan Catur yang sangat sombong.
· Rena,
Catur, Sahrul (Pemeran Pendukung - Antagonis)
teman Guruh yang sama sombongnya.
· Dimas,
Fajar, Wisnu, Anton, Agung, Doni (Pemeran Pendukung - Antagonis)
teman sekelas anak alam,
mereka berasal dari ekonomi menengah yang juga identik dengan sikap sombong.
· Karisma
(Pemeran Pendukung - Antagonis)
teman sekelas anak alam yang
sangat malas. Ia sangat sombong, pemalas dan bandel.
· Kania
(Pemeran Pendukung - Protagonis)
teman sekelas anak alam yang
membela mereka saat dipojokkan oleh teman-teman barunya yang sombong. Dia
cantik, pandai, baik, bijak, gigih dalam belajar dan bersemangat tinggi dalam
mennjalani hidup.
· Pak
Syaerozi (Pemeran Pendukung - Protagonis)
guru agama Islam yang sabar.
· Soebandi
(Pemeran Pendukung - Protagonis)
juragan becak di kota
Semarang yang membantu warga kampung Genteng yang merantau untuk menjadi tukang
becak.
· Mbah
Abdul Mannan (Pemeran Pendukung - Protagonis)
pembuka pintu langgar yang
pertama kali dibangun di kampung Genteng. Beliau juga rela mewakafkan sebagian
tanahnya untuk dijadikan langgar. Masih kolot dengan kehidupan jaman dulu.
· Kiai
Khadis (Pemeran Pendukung - Protagonis)
imam langgar dan juga tukang
becak yang mahir membaca kitab kuning. Beliau adalah Kiai yang mengajari Faisal
membaca Al-Qur’an, berwibawa, sabar, penyanyang, tapi juga keras dan masih
kolot. Ia selalu berbekal kayu rotan yang cukup menyakitkan jika dipakai untuk
disabetkan ke kulit santrinya.
· Ustadz
Muhsin (Pemeran Pendukung - Protagonis)
mahasiswa lulusan pesantren
yang memiliki suara merdu saat mengumandangkan adzan. Ia berasal dari Kudus,
pintar, baik dan sabar. Ia yang membuat Faisal termotivasi untuk bisa membaca
Al-Qur’an
· Wak
Sulimah (Pemeran Pendukung - Antagonis)
janda pemilik kost. Cuek dan
tidak peduli.
· Bang
Anan (Pemeran Pendukung - Protagonis)
Ketua RT yang menyuruh Yok
Bek untuk segera angkat kaki dari kampung Genteng karena dianggap tidak
menguntungkan sama sekali bahkan hanya merugikan warga. Di ketua RT yang bijak,
sabar, penuh kasih dan pengertian.
· Denok
dan Warti (Pemeran Pendukung - Protagonis)
pembantu Yok Bek yang pasrah
dengan hidupnya.
· Bu
Wiryo (Pemeran Pendukung - Antagonis)
warga RT I pemilik kos.
Tidak peduli dengan orang lain dan egois.
· Pak
Cokro (Pemeran Pendukung - Antagonis)
warga RT I kampung Genteng yang
memprovokasi warga lain untuk mengusir Yok Bek. Ia adalah seorang tabib
pengobatan. Orang bodoh yang dipercaya warga. Pembohong besar di kampung yang
sangat percaya dengan mistis. Seorang yang gila sanjungan dan gila hormat,
curang dan licik.
· Psikiater
(Pemeran Pendukung - Protagonis)
mendengarkan cerita Faisal,
pendengar yang baik.
· Baron
(Pemeran Pendukung - Protagonis)
teman Faisal yang gendut,
lucu dan suka kePDan.
· Anton
(Pemeran Pendukung - Protagonis)
teman Faisal yang bicaranya
agak kenes.
· Bu
Darsih (Pemeran Pendukung - Protagonis)
guru IPS Faisal. Sabar,
tegas dan penyayang.
· Pak
Sukri (Pemeran Pendukung - Protagonis)
pesuruh sekolah di SD
Kartini.
· Pak
Yadi (Pemeran Pendukung - Protagonis)
guru olahraga SD Kartini
yang sangat disiplin dengan penampilan terutama kebersihan.
· Pak
Gunarso (Pemeran Pendukung - Protagonis)
guru kesenian SD Kartini
· Bang
Ujai (Pemeran Pendukung - Protagonis)
pria brewok berambut
gondrong dengan tubuh tinggi besar dan selalu mengenakan pakaian serba jeans. Dia adalah agen koran, bos
Pambudi.
· Minto
(Pemeran Pendukung - Protagonis)
penjual koran yang
bersemangat.
· Ayah
Karisma (Pemeran Pendukung - Antagonis)
egois, pemarah dan sangat
kolot.
4.
Alur
Alur
sorot balik yang membuat kita dapat memahami isi novel tersebut.
5.
Sudut
pandang
Sudut
pandang dalam novel ini seolah-olah membuat kita mengalami dan merasakan
peristiwa di setiap kejadiannya, yakni menggunakan sudut pandang orang pertama.
Hal ini ditunjukkan dalam gaya bahasa dalam bercerita yaitu menggunakan kata
aku.
6.
Amanat
Amanat
yang bisa kita petik dari novel ini adalah kita harus selalu bersemangat dalam
menjalani hidup, harus selalu bermimpi untuk mewujudkan cita-cita, karena
cita-cita berawal dari sebuah mimpi. Semangat juang tinggi dari anak-anak alam
inilah yang sangat patut kita contoh. Semangat bersekolah meskipun keadaan
ekonominya tidak memenuhi. Sekolah sambil bekerja demi memenuhi kebutuhan
hidupnya. Mereka selalu berjuang menghadapi hidup.
7.
Gaya
Penulisan
Gaya
penulisan dalam novel ini lugas dan menarik, penulis novel bisa membuat kita
terjerumus ke dalam cerita tersebut seoalah-olah kita seperti mengalami
kejadian yang sedang terjadi.
F.
Unsur
Ekstrinsik
1.
Riwayat
Hidup Penulis
Wiwid Prasetyo atau sering juga menulis
dengan nama Prasmoedya Tohari, lahir pada 9 November 1981 di Semarang. Alumnus Fakultas Dakwah IAIN
Walisongo, Semarang, tahun 2005 ini sehari-harinya aktif di Majalah FURQON, PESANTrend, Si
Dul (majalah
anak-anak), serta tabloid Info Plus Semarang, baik selaku redaktur maupun
reporter. Selain itu, ia juga
peduli terhadap dunia pendidikan, terbukti masih menjadi pengajar di Bimbingan
Belajar Smart Kids Semarang.
2.
Karya-karya
Penulis
Beberapa karyanya yang sudah terbit adalah Orang
Miskin Dilarang Sekolah (DIVA
Press, 200), Sup Tujuh Samudra (Bersama Badiatul Rozikin, DIVA Press,
2009), Chicken Soup Asma'ul Husna (Garailmu, 2009), dan Miskin
Kok Mau Sekolah ...? ! (DIVA
Press, 2009), Idolaku Ya Rasulullah Saw ...! (DIVA Press, 2009), Demi
Cintaku pada-Mu (DIVA
Press, 2009), Aha, Aku Berhasil Kalahkan Harry
Potter (DIVA Press,
2010), The Chronicle of Kartini (DIVA Press, 2010), dan Nak,
Maafkan Ibu Tak Mampu Menyekolahkanmu (DIVA Press, 2010).
3.
Prestasi
Penulis
Belum
ada.
G.
Nilai
Buku
Hal-hal
yang terkandung dalam buku ini meliputi manfaat, keunggulan dan kelemahan serta
visi dan misi buku, yakni sebagai berikut:
1.
Manfaat
Buku
· Kepedulian
dan persahabatan yang membuat kita untuk berubah menjadi lebih baik
· Rasa
solidaritas tinggi yang patut kita contoh
· Semangat
untuk bersekolah meskipun harus sambil bekerja
· Berani
membela kebenaran
2.
Keunggulan
Buku
· Covernya
menarik
· Ceritanya
mudah dipahami.
· Penggambaran
cerita yang terasa nyata
· Terdapat
kata-kata mutiara yang bisa menginspirasi kehidupan kita
· Menggunakan
bahasa penulisan yang menarik dan santai
· Memberikan
amanat positif nagi pembacanya
· Menceritakan
kisah yang dapat dijadikan pelajaran dalam hidup kita
3.
Kelemahan
Buku
· Ada
beberapa kata yang kurang bisa dimengerti sehingga kita susah untuk memahami
kalimatnya.
4.
Visi
dan Misi Buku
· Menyuguhkan
bacaan yang berkualitas untuk pembaca
· Menyatukan
dunia pendidikan dan dunia kepenulisan karena keduanya saling berkaitan
· Menambah
pengetahuan dan wawasan bagi pembaca
***
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
1.
Keunggulan
Buku
· Covernya
menarik
· Ceritanya
mudah dipahami.
· Penggambaran
cerita yang terasa nyata
· Terdapat
kata-kata mutiara yang bisa menginspirasi kehidupan kita
· Menggunakan
bahasa penulisan yang menarik dan santai
· Memberikan
amanat positif bagi pembacanya
· Menceritakan
kisah yang dapat dijadikan pelajaran dalam hidup kita
2.
Kelemahan
Buku
· Ada
beberapa kata yang kurang bisa dimengerti sehingga kita susah untuk memahami
kalimatnya.
3.
Layak
tidaknya Novel untuk dibaca
Sangat
bagus dan sangat layak karena banyak manfaat yang kita dapatkan setelah membaca
nobel ini.
4.
Manfaat
Buku
Manfaat
yang saya dapatkan setelah membaca novel ini banyak sekali. Banyak sekali
pelajaran hidup didalamnya. Novel ini mengajarkan kita untuk bersyukur bahwa
masih banyak yang tidak seberuntung kami. Kepedulian dan persahabatan yang
membuat kita untuk berubah menjadi lebih baik rasa solidaritas tinggi yang
patut kita contoh, semangat untuk bersekolah meskipun harus sambil bekerja dan
berani membela kebenaran.
B.
Saran
Kita yang menjadi
generasi muda penerus bangsa sebainya seringlah membaca buku-buku fiksi maupun
nonfiksi. Karena membaca adalah kunci dari cakrawala. Selain itu, manfaat dari
membaca di hari ini pasti akan kita rasakan di hari ini juga dan dikemudian
hari. Dari membaca kita memperleh informasi. Dari membaca kita bisa menambah
satu hal yang belum kita ketahui. Maka marilah kita biasakan membaca utuk
menjadi generasi yang lebih mandiri dan berprestasi.
***
DAFTAR PUSTAKA
Prasetyo,Wiwid.2011.Orang Miskin Dilarang Sekolah.Jakarta:Diva
Press
***
Makasih :) ini sangat membantu lebih dari yang saya harapkan
BalasHapus