In rebloged

Maaf (Sewajarnya)

Nila setitik rusak susu sebelanga.

Aku pernah berpikir keras bagaimana kalimat di atas bisa benar-benar merepresentasikan keadaan dalam kenyataannya. Aku selalu benci mengapa pengaruh negatif selalu lebih kuat dibanding yang positif.

Bagaimana mungkin nila yang hanya setitik itu bisa merusak susu sebelanga banyaknya? Tentunya tergantung kadar si nila itu sendiri. Namun yang aku tahu, keburukan sering kali lebih kuat. Contohnya orang terbaik yang pernah kamu kenal, sekali dia melakukan kesalahan/keburukan, kontan semua kebaikannya seakan luruh, sirna, sia-sia.

Ketika dia berbuat salah, ingatlah kebaikannya.”

Tentu saja hal itu diperlukan, agar apa? Agar kita menjadi hamba yang pemaaf, tidak melebihi sifat Tuhannya, namun berusaha mengikuti jalan-Nya. Namun masih ada yang kurang dari ungkapan tadi, mesti ditambah sebaliknya, “Ketika dia berbuat baik, ingatlah kesalahannya. Hanya agar kamu tetap waspada.

Ya, memang apa pun yang berlebihan, tidak baik. Seperti halnya memaafkan, dan membenci. Membencilah, marahlah, kecewalah dengan sewajarnya, agar kamu bisa dengan wajar memaafkan.



***



Nah, aku sering banget nih kaya gini. Pernah, udah percaya banget sama orang kemudian dikhianatin. Sakitnya itu luar biasa banget lho. Kecewa, marah, benci nya pun otomatis juga luar biasa. Karena aku memang tipe orang yang paling gak benci disakitin, dikhianatin, dibohongin, dan semacamnya. Tapi aku selalu berusaha buat selalu memaafkan orang lain. Karena aku juga takut kalo dibenci sama orang. Jadi, aku lupain aja buruk-buruknya, diinget yang baik-baik. Terus inget juga bahwa manusia memang gak ada yang sempurna. Atau anggep aja mungkin waktu itu dia khilaf. Kita pernah khilaf juga kan, hehehe. Nah, kalo udah gitu in sha Allah kita bakalan bisa memaafkan kesalahan orang lain itu dengan ikhlas. Coba deh buat selalu berbuat baik sama orang. efeknya luar biasa lho :) hihihi


rebloged from: here

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar